Jumat, 07 Desember 2012

Laporan Praktikum Kimia KALORIMETRI


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
BELLA DWI LESTARI
XI IPA
1
SMAN 01 BUKIT KEMUNING








KALORIMETRI
Ø  Tujuan :
Menghitung dan mengamati Suhu dari Larutan suatu Reaksi
Ø  Teori
Energi yang terkandung di dalam suatu sistem atau zat disebut entalpi.
Entalpi merupakan sifat ekstensif dari materi maka bergantung pada jumlah mol zat. Entalpi suatu sistem tidak dapat diukur, yang dapat diukur adalah perubahan entalpi yang menyertai perubahan zat, karena itu kita dapat menentukan entalpi yang dilepaskan atau diserap pada saat terjadi reaksi.
Perubahan energi pada suatu reaksi yang berlangsung pada tekanan tetap
disebut perubahan entalpi. Perubahan entalpi dinyatakan dengan lambang ΔH, dengan satuan Joule dan kilo Joule.
perubahan entalpi, dikenal dua macam reaksi yaitu reaksi
eksoterm dan reaksi endoterm..
1.      Reaksi eksoterm adalah reaksi yang membebaskan kalor/energi Contoh Eksoterm: membakar minyak tanah di kompor minyak dan nyala api unggun.
2.      Reaksi endoterm adalah reaksi yang menyerap kalor/energi. Contoh Endoterm: asimilasi dan fotosintesis.

Pada reaksi eksoterm, kalor mengalir dari sistem ke lingkungan . sehingga entalpi sistem akan berkurang, artinya entalpi produk (Hp) lebih kecil dari pada entalpi pereaksi (Hr). Oleh karena itu perubahan entalpinya (ΔH) bertanda negatif.
Reaksi Eksoterm: ΔH = Hp –Hr < 0 (negatif) 
Contoh Persamaan termokimia untuk reaksi eksoterm:
CaO(s) + CO2(g) → CaCO3(s) ΔH = - a kJ

Pada reaksi endoterm,sistem menyerap energi. Oleh karena itu, entalpi sistem akan bertambah, artinya entalpi produk (Hp) lebih besar dari pada entalpi pereaksi (Hr). Akibatnya, perubahan entalpinya (ΔH) bertanda positif.
Reaksi Endoterm: ΔH = Hp –Hr > 0 (positif)
Contoh Persamaan termokimia untuk reaksi endoterm:
CaCO3(s) → CaO(s) + CO2(g) ΔH = + a kJ

Perubahan entalpi pada reaksi eksoterm dan endoterm dapat dinyatakan dengan diagram tingkat energi seperti berikut ini:

Jika suatu reaksi berlangsung secara eksoterm, maka kalor sepenuhnya akan diserap oleh larutan di dalam gelas. Sebaliknya, jika reaksi tergolong endoterm, maka kalor itu diserap dari larutan di dalam gelas. Kalor merupakan bentuk energi yang terjadi akibat adanya perubahan suhu.
Jadi perubahan kalor suatu reaksi dapat diukur melalui pengukuran perubahan suhu yang  terjadi. Jumlah kalor yang diserap atau dilepas suatu sistem sebanding dengan massa, kalor jenis zat dan perubahan suhunya. Jadi, kalor reaksi sama dengan jumlah kalor yang diserap atau yang dilepaskan larutan di dalam gelas. Jumlah kalor yang diserap atau dilepaskan larutan dapat ditentukan dengan mengukur perubahan suhunya. Karena energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan
q larutan = m · c · Δt
 q = jumlah kalor (J)
m = massa campuran (gram)
c = kalor jenis larutan (J g–1 K–1)
Δt = kenaikan suhu (K)

q kalorimeter = C Δt
C = kapasitas kalor dari kalorimeter (JK–1)

Ø  Alat dan Bahan :
1. Kalorimeter
          6. Gelas erlenmeyer
2.
Gelas ukur              7. Pipet tetes
3.
Pengaduk               8. Urea CO(NH2)2
4. Termometer
          9. kapur
5.
Timbangan Neraca            10. Air 100 ml

Ø  Cara Kerja
1.      Bersihkan semua alat yang ingin digunakan sebelum dipakai
2.      Timbanglah Batu Kapur dan Pupuk Urea
3.      Masukan air ke dalam kalorimeter
4.      ukur suhu awal air yag di masukkan tadi (t1)
5.      Masukan Batu Kapur kedalam kalorimeter , kemudian aduk sampai suhunya naik (t2) , amati dan catat perubahan suhunya .
6.      Setelah selesai , Bersihkan kembali semua alat yang telah digunakan agar tidak adanya pengaruh dari Batu kapur
7.      Lakukan cara kerja yang sama dengan percobaan pupuk urea

Ø  Data Pengamatan

·         Tabel Pengamatan Batu Kapur
Bahan
t1(oC)
t2(oC)
Air
Gejala Yang Timbul
Ekso/Endo
Kapur
31°C
37°C
100 ml
Lingkungan (Gelas) menjadi Hangat
Eksoterm
·         Tabel Pengamatan Pupuk Urea
Bahan
t1(oC)
t2(oC)
Air
Gejala Yang Timbul
Ekso/Endo
Urea
31°C
26°C
100 ml
Lingkungan menjadi Dingin
Endoterm



Ø  Analisis Data
-                     Larutan Kapur
t1 =31°C  ( suhu awal air)
t2= 37°C
∆T=t2-t1
                           =37°C-31°C
      =6°C

-                     Larutan Urea
t1 =31°C  ( suhu awal air)
t2= 26°C
∆T=t2-t1
                           =26°C-31°C
      =-5°C

Ø  Kesimpulan
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa, Larutan Kapur merupakan larutan yang bersifat Eksoterm, setelah dicampur dengan air lingkungannya/ gelas menjadi Hangat (+), suhu menjadi naik.  Dan Larutan Urea merupakan larutan yang bersifat Endoterm, setelah dicampur dengan air lingkungannya/ gelas menjadi Dingin (-) suhu menjadi menurun .
Jadi  Reaksi Eksoterm terjadi kenaikan suhu karena melepaskan kalor sedangkan Reaksi Endoterm terjadi penurunan suhu karena menyerap kalor


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar